Populer

SEJARAH LAHIRNYA AGAMA BUDHA

 



Agama Buddha merupakan salah satu agama yang muncul dan berkembang pesat di daratan India. Agama ini mulai muncul pada abad ke-6 SM. Sebagai agama yang muncul pada masa itu, secara historis agama tersebut masih mempunyai kaitan erat dengan agama pendahulunya, yaitu agama Hindu. Pembawa ajaran agama ini adalah Sindharta Buddha Gautama, yang sebelum memperoleh pencerahan merupakan seorang pangeran kerajaan Maghada dan pemeluk agama Hindu.

Pedoman dan hukum-hukum yang diajarkan oleh Sindharta mempunyai tujuan akhir untuk melepaskan nafsu dan penderitaan dalam hidup manusia sehingga dapat mencapai nirvana. Sebagai agama, ajaran Buddha tidak bertitik tolak kepada Tuhan dan hubungan-Nya dengan alam semesta dan seluruh isinya. Agama Buddha justru bertitik tolak kepada keadaan yang dihadapi manusia dalam kehidupannya sehari-hari, khususnya tentang tata susila manusia agar terbebas dari lingkaran sukkha yang selalu mengiringi hidupnya.

Kelahiran Siddharta “Buddha” Gautama

Siddharta Gautama lahir sekitar tahun 560 S.M di gana-sangha (persekutuan mandiri) India Utara, dengan ibukotanya Kapilawastu. Ia merupakan pangeran dari kerajaan tersebut. Sebuah riwayat menceritakan kelahirannya yang menyatakan bahwa Maya, ibunya, sebelum mengandung Siddharta memimpikan seekor gajah putih masuk ke dalam rahimnya.

Setelah mimpi aneh tersebut, raja menanyakan makna mimpi itu kepada 44 orang brahmana termahsyur di negerinya. Para Brahmana menyimpulkan bahwa raja akan segera memiliki keturunan. Peristiwa aneh kemudian terjadi di saat proses mengandung, meskipun telah mengandung lebih dari sembilan bulan, anak tersebut tidak kunjung lahir.


Baru ketika memasuki bulan ke-10 usia kandungan, anak tersebut lahir. Tujuh hari kemudian, ibu dari Siddharta Gautama meninggal. Siddharta kemudian diasuh dan dibesarkan oleh bibinya. Meskipun dibesarkan oleh bibinya, Sidharta telah menunjukkan kecerdasan di atas rata-rata. Bahkan ia sudah bisa menulis sebelum diajarkan oleh gurunya.


Menurut riwayat hidupnya Siddharta Gautama pada awalnya merupakan pemeluk agama Hindu, mengikuti orang tuanya. Untuk mencegah pengaruh kehidupan masyarakat yang mungkin dapat melemahkan keimanannya, maka ia tidak diizinkan melihat dunia luar istana.


Siddharta memperoleh pendidikan yang sangat isolatif dari masyarakat luar. Untuk menyenangkan dan mencegah munculnya keinginan melihat dunia luar, keluarganya memberikan kehidupan serba mewah kepadanya. Tetapi layaknya manusia pada umumnya, Siddharta mengalami kebosanan dan ketidakpuasan dengan kehidupan monoton yang dijalaninya.

Setelah mimpi aneh tersebut, raja menanyakan makna mimpi itu kepada 44 orang brahmana termahsyur di negerinya. Para Brahmana menyimpulkan bahwa raja akan segera memiliki keturunan. Peristiwa aneh kemudian terjadi di saat proses mengandung, meskipun telah mengandung lebih dari sembilan bulan, anak tersebut tidak kunjung lahir.

Baru ketika memasuki bulan ke-10 usia kandungan, anak tersebut lahir. Tujuh hari kemudian, ibu dari Siddharta Gautama meninggal. Siddharta kemudian diasuh dan dibesarkan oleh bibinya. Meskipun dibesarkan oleh bibinya, Sidharta telah menunjukkan kecerdasan di atas rata-rata. Bahkan ia sudah bisa menulis sebelum diajarkan oleh gurunya.

Menurut riwayat hidupnya Siddharta Gautama pada awalnya merupakan pemeluk agama Hindu, mengikuti orang tuanya. Untuk mencegah pengaruh kehidupan masyarakat yang mungkin dapat melemahkan keimanannya, maka ia tidak diizinkan melihat dunia luar istana.

Siddharta memperoleh pendidikan yang sangat isolatif dari masyarakat luar. Untuk menyenangkan dan mencegah munculnya keinginan melihat dunia luar, keluarganya memberikan kehidupan serba mewah kepadanya. Tetapi layaknya manusia pada umumnya, Siddharta mengalami kebosanan dan ketidakpuasan dengan kehidupan monoton yang dijalaninya.

Keluar dari Kehidupan Istana

Pangeran muda ini menikah dengan wanita bernama Gopa. Dari hasil pernikahan ini ia memperoleh anak, yang ia namakan Rahula. Rahula memiliki arti belenggu, pemberian ini mencerminkan kehidupannya yang terbelenggu layaknya terpenjara di istana.

Ketika Siddharta memasuki usia 29 tahun, ia beberapa kali berhasil keluar istana dan melihat kehidupan luar istana. Di luar istana ia mendapatkan 4 pengalaman yang memperkuat keinginannya untuk keluar dari istana semakin kuat:

1. Ia melihat seorang laki-laki tua yang lemah dan menyaksikan betapa usia tua menghancurkan ingatan, keindahan, dan keperkasaan. Ia tidak pernah bertemu dengan orang tua sebelumnya.
2. Ia melihat orang cacat yang tersiksa kesakitan, ia merasa kaget melihat penderitaan sedemikian rupa. Ia tidak pernah mengalami penderitaan seperti itu.
3. Ia melihat orang sedang menangis dalam duka dan prosesi pemakaman. Perasaannya sangat terganggu oleh suasana penderitaan karena kematian. Ia tidak pernah melihat peristiwa kematian sebelumnya.
4. Ia melihat seorang suci sedang mengembara, dengan rasa puas dan gembira, berjalan berkeliling dengan mangkok drema di tangannya. Ia tiba-tiba mengerti bahwa semua kesenangan hidup tidak berarti.

Proses Memperoleh Pencerahan


Empat pengalaman yang Siddharta alami, semakin memperkuat keinginannya untuk mencari pengetahuan akan kebenaran. Akhirnya pada tengah malam ia meninggalkan istana bersama istrinya, Gopa dan anaknya, Rahula.

Dalam proses mencari kebenaran, Siddharta berguru pada banyak pendeta Hindu yang sedang bertapa di hutan selama beberapa tahun, pertama ia berlatih meditasi, lalu hidup sangat miskin bersama lima temannya. Akan tetapi segala pelajaran yang mereka berikan belum mampu memuaskannya.

Siddharta kemudian pergi ke suatu tempat yang kemudian dikenal dengan nama Bodhgaya. Di sana ia bermeditasi selama beberapa tahun untuk mencari ilham sejati yang dapat memberikan tuntunan hidup. Ketika ia duduk menyendiri di bawah pohon bodhi untuk bermeditasi, saat itu lah hal yang ia nantikan terjadi. Ia memperoleh pengetahuan tentang kebenaran yang sejati.

Tiga malam berikutnya ia pergi melalui tiga tahap pencerahan, melawan godaan Mara, roh jahat. Pada malam pertama, seluruh kehidupan pertamanya lewat di depan matanya. Malam kedua, ia melihat lingkaran kelahiran, kehidupan, dan kematian beserta hukum yang menguasainya. Malam ketiga, ia mengerti tentang “Empat Kebenaran Mulia”: keseluruhan penderitaan, asal-usul penderitaan, penyembuhan penderitaan, dan jalan menemukan penyembuhan itu.

Ia kemudian sadar bahwa semua manusia mengalami penderitaan, akar penderitaan berasal dari keinginan kuat dan jika keinginan kuat itu berhenti, maka penderitaan pun berhenti. Sejak peristiwa itu ia memakai gelar Buddha, yang artinya telah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran yang sejati.

Selanjutnya, Siddharta dipanggil sampai tiga kali oleh Dewa Tertinggi, Brahma, untuk membantu orang lain menerima pencerahan. Panggilan untuk menyebarkan ajaran ini ia jalankan selama 44 tahun, dan pengikut pertamanya adalah kelima temannya yang dulu hidup bersama dalam kemiskinan.

Setelah melakukan penyebaran ajaran Buddha selama 44 tahun, Siddharta Buddha Gautama meninggal pada tahun 483 SM di Kusinagara. Tidak ada pengikutnya yang dapat menggantikannya, karena kedudukan Buddha bukan kedudukan yang dapat dicapai orang dalam waktu satu generasi saja.

Kepercayaan dan Ajaran Agama Buddha

Setelah Siddharta Buddha Gautama memperoleh pencerahan, ia memutuskan membatalkan kepergiannya ke nirvana agar dapat mengajarkan visinya kepada orang lain. Visi ini ia ajarkan dalam Empat Kebenaran Mulia atau disebut Catur Arya Sentani, dan Delapan Jalan Luhur atau disebut Astha Arya Margha.

Empat kebenaran luhur atau Catur Arya Sentani terdiri dari:

1). Dukha, artinya penderitaan, maksudnya bahwa hidup di dunia adalah penderitaan. Sepanjang hidupnya manusia mengalami penderitaan, ajaran Buddha ditunjukan untuk membantu manusia mengerti makna penderitaan dan mengatasinya.
2). Samudaya, artinya sebab penderitaan. Penyebab penderitaan adalah keinginan manusia yang kuat akan hidup, kesenangan, dan harta.
3). Nirodha, artinya pemadaman. Pemadaman di sini maksudnya adalah menghilangkan penderitaan itu dengan jalan menyingkirkan keinginan kuat.
4). Margha, jalan untuk menghilangkan keinginan kuat nafsu duniawi. Jalan yang dimaksudkan adalah jalan tengah antara aksese dan hedonisme, satu-satunya jalan untuk menghilangkan keinginan kuat itu.


Untuk menghilangkan keinginan kuat kehidupan duniawi, manusia harus menempuh delapan jalan tengah atau disebut Astha Arya Margha, yaitu:
1. Mengerti empat kebenaran mulia dengan benar.
2. Berpikir benar, yang membawa kepada sifat mencintai semua bentuk kehidupan, bahkan juga kepada kehidupan yang tingkatannya paling rendah sekalipun.
3. Berbicara dengan benar, dengan tujuan yang mulia.
4. Bertingkah laku dengan benar, menyangkut tindakan yang bermoral, penuh perhatian kepada sesama, dan melakukan kebaikan terhadap semua makhluk hidup.
5. Mata pencaharian yang benar, maksudnya adalah supaya umat Buddha tidak mencari pencaharian dari hal-hal yang mengakibatkan kekerasan.
6. Usaha yang benar untuk mengusir semua pikiran jahat.
7. Perhatian yang benar menyangkut kesadaran terhadap kebutuhan orang lain.
8. Konsentrasi yang benar dalam melakukan meditasi, sehingga ketenangan batin seseorang dapat tercipta.

Selama hidupnya, Siddharta “Buddha” Gautama tidak mengerjakan cara-cara menyembah kepada Tuhan maupun konsepi ketuhanan. Walaupun dalam wejangan-wejangannya kadang menyebut tuhan, tetapi ia lebih banyak menekankan tentang ajaran hidup suci, seingga banyak ahli menyebut agama Buddha sebagai ajaran moral.

Tidak disinggungnya konsep ketuhanan dalam agama Buddha tercermin dalam credo/syahadat agama Buddha atau disebut Triratna, yang berbunyi:

Budham Saranam gacchami : Aku berlindung kepada Buddha.

Dharman Saranam gacchami : Aku berlindung kepada Dharma (hukum-hukum agama).

Sangham Saranam gacchami : Aku berlingung kepada Sangha (orde pendeta).

Dalam susunan kalimat kesaksian tersebut tidak disebut nama tuhan, hanya ada penyerahan diri kepada Budha, Dharma, dan kepada Sangha.





Tidak ada komentar